Diskusi Publik: 37 TAHUN,WALHI MENGAJAK BERBUAT UNTUK BUMI

Walhi Sulawesi Selatan, wilayah kelolah rakyat

Makassar,Rabu, 17 Oktober 2017.Dalam rangka hari jadi WALHI ke 37 tahun, WALHI Sulawesi Selatan memperingatinya dengan melakukan diskusi publik terkait kondisi lingkungan hidupdi Sulawesi Selatan. Diskusi publik dilaksanakan di Mr. Coffee, Jl. Boulevard Makassar

Direktur WALHI Sulawesi Selatan, Asmar Exwar, memaparkan hasil pantauan WALHI Sul-sel dalam satu tahun terakhir terkait kondisi dan penangan kasus lingkungan di wilayah provinsi Sulawesi Selatan. Secara umum Kondisi lingkungan hidup di Sulawesi Selatan potretnya masih buruk, ini dilihat dari beberapa kasus sektoral yang masih menjadi persoalan utama seperti pencemaran dan penangganan limbah B3, alih fungsi hutan untuk kegiatan non kehutanan, bertambahnya konsensi pertambangan, expansi lahan perkebunan skala luas serta reklamasi dan penambangan pasir laut.

Kegiatan diskusi publik dengan tema “Berbuat Untuk Bumi”, WALHI Sulawesi Selatan mengajak masyarakat untuk memperjuangkan lingkungan hidup di Indonesia, salah satunya dengan mendorong pemerintah untuk melakukan upaya-upaya pemulihan lingkungan yang di barengi dengan penegakan hukum lingkungan.

Diskusi publik yang digelar WALHI di moderator oleh Ir. Taufik Kasaming, SH. yang memandu diskusi sampai selesai. Perwakilan nelayan pulau Tanakeke, Nutta, akademisi Alwy Rahman, praktisi hokum Zilkifli Hasanuddin, SH serta praktisi lingkungan Musmahendra memberi pengayaan materi terkait kondisi atau potret lingkungan, sosial, ekonomi dan budaya dalam pengelolaan lingkungan hidup di Sulawsei Selatan.

Perwakilan dari masyarakat nelayan pulau Tanakeke melakukan testimoni, Daeng Nutta,  mengucapkan apresiasi kepada WALHI Sul-sel yang telah memfasilitasi menyampaikan keresahan masyarakat nelayan di pulau tanakeke kepada publik. Hingga sampai hari ini  dengan pengerukan pasir (tambang pasir laut) yang merusak ekosistem laut telahmembawamasalahbagipendapatandan hubungan sosial yang ada pada masyarakat, ungkap Nutta.

Nutta melanjutkan, “semenjak adanya penambangan pasir, pendapatan masyarakat terganggu, misalnya pencarian ikan itu susah sekali di dapat, yang kedua rumput laut yang menjadi hasil pencarian masyarakat di kepulaun Tanakeke juga terganggu akibat air laut yang keruh  disekitar di pulau kami”.

Harapan saya,  diharapkan teman-teman beserta jejaring membantu kami  untuk menghentikan penambangan liar  di pulau kami, tutup Nutta dalam testimoninya.

Rizki Angriana Arimbi yang mewakili WALHI Sul-sel menyampaikan materi dengan tema “Peruntukan wilayah kelolah rakyat  dan konflik tenurial di kawsan hutan”, sedangkan Alwy Rahman menyampaikan materi dengan judul “Preseptif Kebudayaan dan Gerakan Sosial Akar Rumput”. Musmahendra menyampaikan pesan terkait permasalahan izin lingkungan hidup dan pengawasan kasus-kasus lingkungan hidup di Sul-sel. Praktisi hokum Zulkifli menyampaikan materi terkait“ Tinjauan Hukum dan Presektif Hak Asasi Manusia”

Kegiatan ini di tutup dengan pemotongan kue ulang tahun WALHI ke-37.

Dok. Muhaimin

 

Editor : Asmar Exwar

Penulis : Muhaimin

Leave a Reply