Sebelum Hutan Menjadi Kenangan Masa Depan

Perkebunan Sawit, Wilayah Kelola Rakyat

Tahukah anda, hari ini, 21 Maret diperingati sebagai Hari Hutan Internasional. Hari Hutan Internasional atau Hari Hutan se-Dunia, dalam bahasa Inggris dikenal sebagai International Day of Forests, diperingati setiap tanggal 21 Maret. Pada bulan Maret ini, setidaknya ada hari-hari istimewa peringatan lingkungan hidup. Selain Hari Hutan, di bulan Maret juga diselenggarakan peringatan Hari Air se-Dunia (World Water Day) pada 22 Maret dan Earth Hour pada 29 Maret 2014.

Hari Hutan Internasional (International Day of Forests) ditetapkan berdasarkan resolusi PBB 67/200 pada 21 Desember 2012. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran publik di seluruh dunia tentang pentingnya keberadaan semua jenis hutan dan pohon di luar hutan. Fokus utama kampanye Hari Hutan se-Dunia yaitu menjaga keberadaan hutan di dunia yang dilakukan dengan melindungi hutan, memanfaatkan hasil hutan, dan menjadikan hutan sebagai tempat rekreasi alam untuk kesejahteraan manusia.

Hari peringatan tentang penyelamatan hutan ini secara global dikoordinir oleh FAO (Food and Agriculture Organization) badan PBB yang bergerak di bidang pangan dan pertanian.  Hari hutan sedunia sudah diperingati oleh masyarakat dunia sekitar 30 tahun belakangan ini. Awalnya, hari hutan sedunia ini hanya diperingati oleh General Assembly of the European Confederation of Agriculture. Kemudian, FAO mendukung kegiatan itu di seluruh dunia.

Seperti kita tahu, di hutan tak cuma ada pohon-pohon besar saja, tapi terdapat juga berbagai makhluk hidup yang berkembang biak di dalamnya, termasuk air, tumbuhan dan hewan. Mahluk-mahluk itu berkelindan menjelma ekosistem. Tumbuhan membuka jalan agar hewan dan manusia bisa hidup. Awal terciptanya semesta, lumut menyedot gas karbon dioksisa yang menyebabkan udara di Planet Bumi mendingin dan gas karbon dioksida berkurang. Tumbuhan juga menyediakan oksigen dan makanan bagi hewan dan manusia.

Akar tumbuhan mengikat air hujan. Air hujan disimpan di dalam tanah oleh akar tumbuhan. Karena tumbuhan itulah, di daratan tercipta banyak mata air dan sungai. Selain itu, hutan pun menyediakan banyak manfaat bagi manusia, termasuk menyediakan obat yang berkhasiat.

Begitulah, awalnya semua mahluk saling bergantung dan membutuhkan. Tapi pada akhirnya, mahluk bernama manusia, khalifah di muka bumi, yang memiliki kecerdasan dan daya yang melebihi mahluk lainnya, rupanya juga dikaruniai keserakahan untuk menguasai semesta raya.

Kebutuhan dan keinginan manusia yang terus berkembang, menjadikan dunia kian sesak oleh anak keturunan manusia yang menyebar ke seluruh permukaan bumi. Karena perut dan impian butuh digenapi, maka manusia pun mengeksplorasi alam semesta, termasuk hutan, sehingga tumbuhan dan hewan semakin tersingkir tempat tinggalnya.

Apa yang akan terjadi jika hutan berkurang? Tentu saja sumber makanan manusia akan berkurang. Jumlah gas karbon dioksida akan kembali meningkat.

Oleh karena itu, melalui Hari Hutan Internasional, PBB mengingatkan warga bumi akan pentingnya hutan. Kita diimbau untuk mengerem kebutuhan kita agar hutan tidak dibabat untuk tempat tinggal, perkebunan, dan pertambangan. Kita harus mengubah gaya hidup kita agar masa depan udara, air, makanan, dan obat manusia tetap ada.

Saat ini Indonesia termasuk negara dengan tingkat deforestasi tertinggi di dunia, mencapai sekitar 680.000 ha per tahun. Pembukaan dan pembakaran lahan terutama di lahan gambut mengakibatkan Indonesia  kehilangan keanekaragaman hayati yang cukup besar dan menghasilkan emisi gas rumah kaca tertinggi ketiga di dunia, demikian pernyataan seorang pejabat Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa, hari ini.

Pada Hari Hutan Internasional, dunia kembali menaruh perhatian pada tingkat deforestasi dan degradasi lahan Indonesia yang cukup mengkhawatirkan. Setengah dari daratan di Indonesia adalah hutan. Hal ini meletakkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan hutan tropis terpenting di dunia, yang secara signifikan mensuplai oksigen yang cukup besar pada bumi kita. Hutan Indonesia juga berperan penting di saat negeri ini semakin rentan terhadap perubahan iklim.

“Tidak mungkin kita dapat memenangkan perang melawan perubahan iklim tanpa melipatgandakan upaya kita untuk mengurangi deforestasi di Indonesia,” tegas Kepala Perwakilan FAO di Indonesia, Mark Smulders.

Pada tahun 2009, Pemerintah Indonesia berjanji akan mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 26% secara mandiri dan sebesar 41% dengan dukungan internasional pada tahun 2020.  Pemerintah Indonesia menegaskan kembali janji tersebut minggu ini dalam sebuah pertemuan antara pejabat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan perwakilan dari lembaga internasional.

***

Kawasan hutan Indonesia mencapai 162 juta hektar. Lahan hutan terluas itu ada di Papua (32,36 juta hektar luasnya). Kemudian hutan Kalimantan (28,23 juta hektar), Sumatera (14,65 juta hektar), Sulawesi (8,87 juta hektar), Maluku dan Maluku Utara (4,02 juta hektar), Jawa (3,09 juta hektar), Bali dan Nusa Tenggara (2,7 juta hektar).

Indonesia adalah pemilik hutan hujan tropis terluas ke-3 di dunia, setelah Brasil dan Kongo. Dan sayangnya, menurut buku Rekor Dunia Guinness, Indonesia adalah negara yang memiliki tingkat kehancuran hutan tercepat di antara negara-negara yang memiliki 90 persen dari sisa hutan di dunia.

Menurut buku tersebut, Indonesia menghancurkan luas hutan yang setara dengan 300 lapangan sepakbola setiap jamnya. Forest Watch Indonesia pun mencatat kerusakan hutan di Indonesia dari tahun terus meningkat, sampai saat ini saja sudah mencapai 2 juta hektar per tahun.

Sebanyak 72% dari hutan asli Indonesia telah musnah. Akibatnya, luas hutan Indonesia selama 50 tahun terakhir telah berkurang dari 162 juta hektar menjadi 98 juta hektar.

Deforestasi menyebabkan hilangnya ekosistem di dalamnya, termasuk spesies tumbuhan dan hewan langka. Padahal 80% keanekaragaman hayati terdapat di dalam hutan. Deforestasi juga menyebabkan berkurangnya kemampuan menyerap emisi karbon dunia yang tentunya berimbas pada meningkatnya ancaman pemanasan global.

Deforestasi dan degradasi hutan di Indonesia menyangkut berbagai permasalahan yang saling terkait, termasuk perampasan dan penguasaan hutan, kebakaran hutan, peladangan berpindah, pembalakan liar, perdagangan hasil hutan ilegal dan kemiskinan.

Sebuah pendekatan yang komprehensif dan berkesinambungan dibutuhkan untuk melestarikan hutan dan pohon-pohon, membantu  mengatasi degradasi lahan dan erosi serta mempertahankan kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia. Pendekatan ini juga mencakup perlindungan pada daerah pesisir, mengurangi laju perubahan iklim dan menyediakan kebutuhan dasar bagi kehidupan jutaan orang.

Ya, ya.. kita memang sedang menghadapi tantangan yang luar biasa untuk menjamin ketahanan pangan bagi populasi yang meningkat dengan cepat, sambil tetap mengelola kekayaan sumber daya alam untuk generasi mendatang.

Kabarnya, FAO telah mengembangkan sebuah pendekatan yang disebut Climate Smart Agriculture, Forestry and Fisheries  (Pemberdayaan Pertanian, Kehutanan dan Perikanan yang Bijak). Pendekatan ini menggabungkan upaya peningkatan produktivitas dengan mengadaptasi perubahan iklim dan pengurangan emisi gas rumah kaca.

Hutan adalah juga masa depan kita. Sebab di sana terdapat sumber kehidupan berupa makanan, air dan udara bersih. Rusaknya hutan adalah juga rusaknya kehidupan.

Mumpung kita masih memiliki hutan, sehingga setidaknya kita masih bisa memeringati Hari Hutan, mumpung hutan masih mudah kita jumpai dan belum menjelma kenangan, mengapa tidak kita tanami masa depan kita dengan pohonan. Selamat Hari Hutan. (sumber: kompas.com)

Leave a Reply