Sawit Minim Kontribusi Besar Kerugian di Sulawesi Tengah

Perkebunan, Perkebunan Sawit, Siaran Pers, Walhi Sulawesi Tengah

Jika kita menghitung penguasaan lahan oleh korporasi sektor penguasaan lahan maka dengan telanjang mata kita dapat menyaksikan bagaiman penguasaan lahan tersebut begitu timpang terjadi.

Secara garis besar jika melihat total luas daratan Sulawesi Tengah 6.552.672 Ha di bagi dalam penguasaan lahan oleh korporasi pertambangan seluas 2 juta Ha, penguasaan IUUPHK seluas 610,125 Ha dan perkebunan sawit 693,699 Ha. Maka total semua penguasaan lahan tersebut adalah 2,503,824 Ha, jika luasan ini dijumlahkan dengan luas penguasaan kawasan hutan dengan luas 4.274,687 Ha maka total luas daratan Sulawesi Tengah telah habis di kuasai oleh kawasan hutan dan izin konsesi.

Devisi Kampanye Walhi Sulteng, Tofan Badai mengatakan, dari sisi pertumbuhan ekonomi hanya sektor pertambangan yang paling besar menyumbang pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Tengah. Pada triwulan 2016,  ekonomi Sulawesi Tengah mampu tumbuh sebesar 15,52% (yoy), lebih tinggi dari pertumbuhan triwulan sebelumnya yang mencapai 13,21% (yoy) maupun dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 15,09% (yoy). pertumbuhan pada triwulan ini berasal dari sektor industri pengolahan yang tumbuh 69,55% (yoy) dengan andil pertumbuhan sebesar 5,97%. Sementara dari sisi penggunaan ditopang oleh ekspor yang tumbuh sebesar 173,51% (yoy) dengan andil pertumbuhan sebesar 15,44%. Tapi  Pertumbuhan ekonomi dari sektor Ini tidak bisa dijadikan tolak ukur keberhasilan pemerintah daerah. Karena justru pendapatan daerah di sektor pertanian beberapa tahun terkhir ini semakin menurun, hanya menyumbang 1,20%  sementara angka kemiskinan juga terus meningkat.

Sementara sektor lainnya tidak berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, kontribusi untuk penerimaan pajak dari sektor kelapa sawit dari wajib pajak, 18 perusahaan wajib pajak kelapa sawit yang terdaftar di Sulawesi Tengah memberikan kontribusi kurang lebih untuk tahun 2015 adalah sebesar 55 miliar, kalau melihat konteks luas areal tanamannya memang sanagat luas, tapi untuk kontribusinya maka itu sangat kecil, (KPP Pratama Palu, 2016).

Terkait dengan temuan data advokasi Walhi Sulteng, Jika dilihat memang pertumbuhan ekonomi  Sulawesi Tengah tinggi se indonesia pada triwulan ke II 2016, namun jika dilihat presentasenya sektor pertanian hanya tumbuh 1,20 persen atau andil terhadap pertumbuhan 0,40 persen. Angka lain memperlihatkan kepada kita sektor yang paling banyak di kelola langsung oleh rakyat yaitu, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan pada tahun 2010 presentasenya 5,59 persen. Pada tahun 2013 meningkat 10,92 persen, namun dua tahun terakhir sebelum presentasenya anjlok drastis tahun 2015 3,52% dan tahun 2016 triwulan ke II sektor ini hanya menyumbang 1,20%.

Maka dari itu,  dengan melihat persoalan di atas.  Tofn, secara singkat menyapaikan bahwa, industri berbasis sumber daya alam yang di kelola dengan cara tidak adil dan mengabaikan lingkungan hanya akan meninggalkan ketimpangan pada petani, kemiskinan, pengangguran dan kerusakan lingkungan. Maka sudah saatnya semua pihak harus sungguh-sungguh mengfokuskan perhatian pada kontribusi nyata pada rakyat, bukan kontribusi pada pertumbhan ekonomi yang hanya menguntungkan sebagian pihak. Pemerintah harus sudah mulai mengevaluasi kebijakan-kebijakan disektor sumber daya alam yang merugikan petani, nelayan, buruh dan warga masyarakat pada umumnya (PL)

Leave a Reply